JANGAN MINDER JADI SANTRI

Thursday, November 15, 2018

Judul: JANGAN MINDER JADI SANTRI
Penulis: Queen R R Zaidah DKK
Penerbit: Belibis Pustaka
Cetakan: Pertama, November 2018
Tebal: xiv + 164 hlm
ISBN: 978-602-5653-28-5
Harga: 60.000,-



Tidak setiap penulis adalah penutur, pun sebaliknya. Tapi, masyarakat pesantren memiliki akar yang sama kokoh dalam tradisi tulis dan lisan. Kini, ketika dunia literasi semakin bertumbuh, dan kisah-kisah khas pesantren bermunculan lagi, kesusastraan menemukan geliat yang melegakan.
Kita tak perlu khawatir lagi tentang bagaimana khazanah pesantren dikembangkan kembali sebagai pusat peradaban dan sumber kebudayaan. Kita layak bergembira menyambut penerbitan buku berjudul “Jangan Minder Jadi Santri” karya para santri Pondok Pesantren Baitul Arqom, Balung, Jember, Jawa Timur ini. Selamat membaca!
-Candra Malik
Wakil Ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) pada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Membaca buku ini, menghidupkan kembali memori saat mondok dulu. Uniknya, yang membuat buku ini "mahal" adalah kisah yang disajikan banyak mengandung motivasi, pun sisi lain dari santri yang mungkin tidak banyak orang mengetahuinya, termasuk mereka yang pernah mondok.
Jadi, buat kamu, yang masih ada anggapan "santri itu kudet, kuper, atau apalah itu yang menyudutkan "jabatan" santri, baca buku ini deh, kamu pasti pengen mondok lagi.
Hj. Mastia Lestaluhu, S.Sy., MCHt. Qoriah Internasional.
Cerpen ini adalah karya yang mampu memanggil memori fase kehidupan setiap santri yang pernah mondok. Alur cerita dan pesan moralnya cukup 'renyah dan mengena' yaitu menjadi santri harus berani bermimpi dan memiliki idealisme yang tinggi, dan disertai keta'dhiman pada kiai dan ustadznya.
-Zainur Rofiq, Nyantri di Baitul Arqom periode 1999-2006
Pernah belajar di Ohio University (Amerika), Leiden University (Belanda), dan Radboud University Nijmegen (Belanda), Sekarang mengabdi sebagai pengajar di Fakultas Humaniora UIN Maulana Malik Ibrahim Malang
Karya ini jelas menggambarkan bahwa pesantren sungguh mengasyikkan. Di sana kita punya banyak teman, kyai dan ustadz/ustadzah yang baik hati mengamalkan ilmu kepada kita, dan banyak pengalaman seru sebagai bekal kehidupan.
Generasi Milenial. Bacalah buku ini, meski untuk sekedar mengenal Pesantren. Semoga karya ini dapat membuka pandangan dan hati para pembacanya, khususnya generasi muda, bahwa pesantren tidak "mengerikan".
-Putri Sofiasary, Selebgram
            Syahdan, Sunan Drajat pernah menaklukkan Penjahat kelas kakap bernama Duratmo hanya dengan Pangkur (Pangudi Isine Quran) yang dialunkan bersama Gamelan Singo Mengkok, setelah penjahat itu takluk kemudian Sunan Drajat memberinya nama Ki Sulaiman. Dari kisah itu, betapa kita tidak tercengang? Hanya dengan tembang-tembang Pangkur yang diadaptasi dari al-Qur’an hati sekeras batupun bisa meleleh? Kumpulan cerita dalam buku ini menyampaikan pesan-pesan al-Qur’an dengan bahasa kekinian, banyak sekali pelajaran mulia di dalamnya. Mantab!
-Ahmad Ali Adhim, CEO Belibis Pustaka



Emoticon