Penemuan Makna dan Dialektika dalam Buku Lukai Aku Sekali Lagi

Thursday, November 15, 2018
Oleh Aguk Irawan MN*

Seorang penyair yang baik tahu, bahwa selain ia seorang yang rajin tadabur dan tafakur, ia juga sekaligus pengubah dunia, setidaknya pengubah bagi para pembacanya. Karena tiap kata yang ditulisnya, ia telah membangun sesuatu, sebuah struktur, dari bahan-bahan yang bisa jadi terbenam lama di benaknya, dan mewakili perasaan bagi yang lainnya. Sebab bahan penulisan puisi, sesungguhnya berasal dari jiwa dan ingatan, dan tiap manusia mempunyai dua hal ini.
Demikian inilah seorang penyair hadir sebagai pengubah dunia, terutama dunia pembacanya. Pembaca menghayati, sekaligus mengikuti kesaksian sang Penyair, untuk memasuki dunia yang "mendiamkan" semua hal dan bisa terapung dalam tiap kata sang penyair. Dengan kata lain, pengalaman puitis adalah pengalaman spiritual yang bisa menyeret siapapun yang mengikutinya (membacanya). Pengalaman demikian ini orang menyebut fase systole, pengalaman kedua, bagi penikmatnya disebut fase diastole. Antara keduanya ada proses dialektika dan pinjam-meminjam makna di sana, terjadi serentak dalam tubuh puisi.
Demikian halnya antologi puisi ini, "Lukai Aku Sekali lagi" yang ditulis Ali Baba (dua penyair; Ali Adhim & Hanny Lubaba), ada proses penemuan makna dan dialektika di sana, antara saya sebagai pembaca, dan dia sebagai penyair, yang menjaring ingatan dan kedalaman batin dalam rumpun kata-kata yang terpilih. Kata-kata yang bukan hanya tanda dari konsep-konsep atau ide-ide, melainkan juga rumpun kata yang hidup dalam jiwa dan bisa mewakili yang lain. Mari kita petik beberapa baris katanya:

Lukai aku sekali lagi
Agar aku bisa mati
Daripada aku tersiksa
Karena masih punya cinta

Mendustai ikrar suci
Kau penjahat tak punya hati
Kesetiaan bagimu tak punya makna
Bahagiamu memberi segudang derita

Senyumku telah hilang
Tergantikan ilalang di seberang jalan
Aku terima
Lukai aku sekali lagi, tak apa.

[Lukai Aku Sekali Lagi, 2]

Tiga larik di atas, si Penyair Ali Baba, memberi alternatif bagi ruang batin seseorang yang telah disakiti dan menjadi remuk, dengan cara lain, yang unik, tak lazim dan paradok, yaitu menyerahkan hatinya untuk kembali disakiti. "Lukai Aku Sekali Lagi", adalah sebuah metafor, yang unik, tetapi itu ada, dan karena cinta, semua jadi bisa dimengerti. "Lukai Aku Sekali Lagi" adalah semacam dislokasi arti kata yang sulit bisa diraih nalar, tetapi sebagai sebuah ide dan gagasan akan kecintaan ia bisa diterima oleh hati yang mempunyai cinta. Juga, pada waktu yang sama, rasa sakit dan air mata memang bisa menjadi tangga menuju pusat tertinggi spiritualitas. Jadi peran penyair sebagai pengubah dunia, setidaknya bagi pembaca, di sini terbuktikan.
Orang bilang, ingatan tak pernah solid dan stabil; ingatan itu mirip kertas, dengan mudah melayang, tertiup angin. Tetapi rasa sakit karena cinta, orang merasa selalu solid dan stabil. Kerena itu, ketika rasa perih itu menampakkan diri di depan kita, sebenarnya yang terjadi di dalam batin kita adalah sebuah proses saling meminjam. Kita yang menemukan rasa perih itu ternyata juga dirasakan oleh orang lain, dan kata-kata dalam puisi menjadi semacam penghubung ruang batin yang sama-sama terluka, menuju sebuah sense (makna), feeling (rasa), tone (nada), dan intention (pesan). Maka, jika kita sepakat dalam sebuah asumsi, bahwa rasa perih dan luka selalu solid dan milik bersama, maka tak ada yang kebetulan dan merasakan luka. Berangkat dari kemiripan ini, maka jauh hari, saya juga pernah menulis sajak yang serupa:

Dalam tiap luka, apalagi berdarah, pasti ada warna merah
hal-hal yang berwara merah selalu nampak lebih indah bukan?
seumpama, bibir tipis seorang gadis, bunga mawar, kupu-kupu,
senja yang hampir memeluk malam, daun-daun taman yang dipingit
lampu hias, atau mungkin perasaan rindu yang lembab?
karena itu, jangan pernah kau ragu, lukai aku sekali lagi
atau bahkan seratus kali lagi, karena kau tahu
aku selalu rindu dengan caramu menyiksa aku berhari-hari,
bukankah nyeri lebih bunyi ketimbang sunyi?

[Lukai Aku Sekali Lagi, Cairo, 2005)

Manusia memang memerlukan bahagia. Tetapi kebahagiaan tidak akan pernah sempurna tanpa luka, atau kesedihan yang menyayat. Karena itulah antara saya dan Ali Baba, agaknya perlu merayakannya. Bersamaan dengan itu, kata “lukai aku” membawa imaji melodramatik, suatu pertentangan yang harus dihindari sepenuh gairah, tapi juga menjadi pelengkap. Luka ibarat sebuah monumen sejarah, yang perlu dikenang, sebagai bagian esensial dalam hidup, meskipun kehidarannya tak pernah diharapkan. Itu sebabnya, “bahagia” dan "sedih" hanya persoalan pergantian dan juga selalu proses, dan tiap pergantian ada jedah, split yang perlu direnungkan sebagai sebuah makna, dalam hal ini Ali Baba menulis puisi yang cukup menghentak.

Aku pergi ke laut
Laut bertanya padaku
“Apakah kau sedang jatuh cinta?”
Tidak, jawabku
“Lantas kenapa kau tulis nama seseorang di atas pasirku?”

Aku pergi ke gunung
Gunung bertanya padaku
“Kau sedang kasmaran ya?”
Tidak, jawabku
“Lalu kenapa kau bawa kertas dan bolpoin
Untuk menulis namanya lalu kau foto di hadapan wajahku?”

Aku pergi ke mushola
Karena lelah kemudian tertidur
Lalu aku bermimpi berada di masjidil haram
Ka’bah tersenyum melihatku menyebut namamu dalam do’aku

[Konstitusi Cinta]

Yang menarik dari puisi di atas adalah adanya dialaog eksistensial antara "ada" dan "tiada," juga antara keberadaan laut dan gunung dengan wajah kekasih yang begitu terasa, tetapi absurd. Cerita rekaan dan tanya jawab diolah menjadi bagian dari ketegangan yang tak pernah dapat diselesaikan dalam hidup. Perasan cinta pada sesorang dan indahnya gunung tak membuat perbedaan. Ketika rasa itu begitu mengepung, bahkan memenuhi jiwa manusia, apa ada yang bisa disalahkan? Apa perasaan itu bisa dibinasakan? Demikian, di hadapan cinta, kita sering menjadi limbung dan tak berdaya. Setiap usaha untuk melenyapkan perasaan cinta, setiap itu cinta makin kuat dan kokoh. Hampir semua puisi yang terkumpul dalam buku antologi ini, bicara dan mentafakuri hal-hal eksistensial seperti itu. Selamat membaca!

Yogyakarta, 26 Januari 2018

*Penulis buku kumpulan esai, Pesan Al-Quran untuk Sastrawan, Penerbit Jalasutra.



Emoticon