Santri Nikah Jomblo Punah

Thursday, November 15, 2018

Judul: SANTRI NIKAH JOMBLO PUNAH
Penulis: ANIFA HAMBALI
Penerbit: Belibis Pustaka
Cetakan: Pertama, November 2018
Tebal: xviii + 213
ISBN: 978-602-5653-29-2
Harga: 65.000,-



“Santri ibarat pisau putih yang tajam. Baginya, ‘isyq-mahabah (cinta), syawq (rindu), nûr (cahaya), nâr (api) dan wahdah (kesatuan) adalah ‘kunci’ dari kiai dalam pengembaraannya selepas ‘nyantren’. Kunci bertujuan untuk membuka segalanya, termasuk membuka diri beradaptasi dengan lawan jenis. Pengalamannya ‘nyantren’, menjadikan buku ini penuh makna! Sebuah karya yang harus dibaca generasi millenial.”
—Makmun Rasyid, Penulis Buku-Buku Islami

“Saya kira belum ada buku yang membahas seluk beluk santri dan permasalahannya lebih detail dan tajam dari karya Anifa ini. Apalagi ia juga bagian dari santri yang masih terhitung zaman now. Maka tidak berlebihan jika saya menyebut buku ini sebagai ensiklopedi permasalahan santri dan solusinya. Dua jempol buat penulisnya.”
Aguk Irawan MN, Sastrawan, Santri, Penulis dan Penterjemah.

“Buku ini mencoba untuk menjelaskan bagaimana menjadi santri dengan pendekatan yang lengkap, tidak hanya deskriptif, namun prespektif dan solutif. Dengan membaca buku ini kita sebagai santri akan semakin tumbuh kesadaran dalam kedewasaan memahami cinta, realita, duka, dan warna kehidupan remaja pada era global ini. Anifa menyapa nurani kita untuk merenungkan kembali arti jomblo dan kesendirian yang menjadi obat penawar rindu. Melalui petualang kata yang berdialog dengan keseharian dan realita, rupanya intuisi ini bukan main-main, karena menulis ibarat menumpahkan segala perasaan atas berbagai persoalan dan realitas. Semoga saja status jomblo akan berakhir untukmu! Hehehe. Secara umum buku ini seperti cerminan penulis yaitu saudari Anifa, karena tulisan adalah cerminan dari penulis itu sendiri. kedalaman memaknai arti kata jomblo dengan bijak menjadi ciri khas khazanah keilmuan santri, terus terang baru kali ini saya menemukan jomblo dari prespektif nahwu. Pembahasan serius sekaligus jenaka yang sangat renyah untuk dibaca. Buku ini wajib dibaca bagi remaja yang baru mengenal cinta agar jauh dari kata galau, tidak jatuh dalam kubangan cinta sesaat, dan tetap menjadi remaja yang tidak mudah layu sebelum berkembang. Selamat atas terbitnya buku karya Anifa Hambali, sosok yang memiliki mobilitas tinggi, prestasi yang cemerlang, seorang pembelajar, wirausaha muda, seroang pengabdi, perempuan tangguh, organisatoris handal, sosok yang tidak pernah lupa kacang akan kulitnya. Kadang saya cemburu dengan kerjakerasmu di usia yang masih muda. Teruslah berkarya Anifa, terlalu hijau untuk menyerah menghadapi kerasnya kehidupan. Saya tunggu karya selanjutnya.”
Ahsani F Rahman, PP Al Islahiyah Singosari Malang dan Direktur Pusat Studi Pesantren Jawa Timur.

“Jika saat ini masih banyak santri yang berpacaran, maka keberkahan akan sulit didapatkan. Pacaran bukanlah cinta yang dewasa, karena cinta yang dewasa akan tumbuh dalam sebuah pernikahan. Di usia yang sangat jauh dari saya Mbak Anifa ini sudah sangat dewasa meramu formula untuk menginspirasi high quality jomblo menyongsong cinta halal mereka. Bacaan ringan tapi bermanfaat banget. Bagaimana keresahan generasi milenial tentang masalah hati saat ini. Bagaimana solusinya. Semua dikemas secara ringan tapi bermanfaat tidak menggurui. Baca ini rasanya seperti sedang curhat sama sahabat dan dikasih saran-saran yang oke punya. Terus bikin baper gak? Ya dibaca dong bukunya. Itu yang dipetik. Kata dari buku yang menurut saya poin penting untuk disampaikan pada remaja generasi muda manapun. Buku ini semacam buku-buku chicken soup yang memang psikologi remaja gitu. Saya suka.”
Hajah Ashfa Khoirunnisa, S.Pd,I, MSI. Rektor STAI An Nawawi dan Drektur Radio Shoutuna FM

“Tulisan santri nikah, jomblo punah ini sangat ringan dibaca oleh siapa saja. Terlebih anak muda terutama santri. Semua akan menikah pada waktunya, begitulah mungkin yang ingin disampaikan oleh penulis. Akan tetapi untuk menuju pernikahan yang indah, perlu proses dan perjuangan yang tidak mudah. Seperti membuat masa jomblo produktif positif, berdamai dengan masa lalu dan menyiapkan lahir batinnya sebelum menuju halal. Cocok dibaca bagi yang masih sendiri, agar kesendirian tidak semakin mencekam.”
—Rijal Mumazziq Z, Ketua LTN NU Kota Surabaya.

“Buku ini menjadi inspirasi penting bagi santri zaman now, santri milenial. Bagaimana karakter santri milenial ini? Mereka yang berproses dari rahim pesantren, terkoneksi dengan dunia kampus dan profesional, kreatif, percaya diri, sekaligus menjaga tradisi dan spiritualitasnya. Bagi santri milenial, kesunyian itu abadi, tapi pasangan hidup itu sehati. Mereka yang jomblo berusahalah menggenapkan sunnah dengan menikah, biar hidupnya terhampar hikmah, agar ibadahnya berkah. Alhamdulillah.”
Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.


“Buku yang sedang Anda pegang ini sangat seru dan kekinian. So, sangat menarik tentunya untuk dibaca. Tidak hanya bagi kalangan santri pada khususnya tapi juga kalangan umum yang dalam status “jomblo” . Dengan berbagai jenis macam jomblo yang ala zaman now, serta dalam memanage rasa cinta yang hadir tanpa terduga di era serba gadget tanpa batas. Jadi jomblo harus aktif produktif dan kreatif. “Puncak dari rasa rindu dan cinta adalah saat kau untaikan doa-doa kepada kekasih tanpa dia tau kau selalu mendoakannya”. Selamat buat penulis, semoga makin kreatif dan produktif menulis dengan status jomblonya.”
Ahmad Athoillah, S.IP, M.IP, Pengurus Pusat RMI NU dan Pagar Nusa, Ketua Hari Santri Nasional 2017.

“Menjadi santri adalah panggilan Ilahi untuk manusia pilihan, manusia yang menghabsikan waktunya untuk tafaqquh fiddin, penjaga wahyu Ilahi. Jodohmu adalah cerminan diri, perbaikilah dirimu maka niscaya kamu akan mendapatkan jodoh yang baik, Mbah Sujiwo Tejo Berkata: “Menikah itu nasib sedangkan mencintai itu takdir, kamu bisa berencana menikahi siapa, tapi tidak dapat kau rencanakan cintamu untuk siapa”. Buku Santri Nikah, Jomblo Punah ini sangat tepat sebagai salah satu referensi santri dalam mencari belahan hati, karena buku ini berbasis true storie seorang santri puteri dalam mencari dambaan hati.”
Abdulloh Hamid, Penulis Buku Pendidikan Karakter Berbasis Pesantren dan Penasihat AIS Nusantara.


“Kalau bicara soal pesantren, gadis sholihah Anifa ini cukup fasih. Karya ini bergenre religi, sarat pesan agama dan moral. Ia kemas indah, bahasa lugas, lincah, dan jauh dari kesan menggurui. Ia mampu membuat tarian dinamis dalam tulisannya. Dari segi edukasi buku ini cukup membuka wawasan bagi remaja dan “orang tuanya remaja”. Ia memandang cinta sebagai anugerah yang harus disyukuri, dibina dan ditempatkan pada porsi yang semestinya. Membaca buku ini tidak rugi! Saya rekomendasikan untuk remaja zaman now dan “orang tuanya remaja” zaman now untuk membaca buku ini.”
Hajah Ummu Abidah Al-Farida, S.Ag, Pendidik di Ponpes Al Islam Joresan Ponorogo.

“Hukum membicarakan cinta di pesantren itu seperti abghodu al halal, atau hal yang wajar namun tidak disukai. Hal ini karena di pesantren berpacaran memang tidak dibolehkan. Biasanya, menjadi jomblo adalah pilihan. Tentu bukan karena tidak laku, tapi lebih karena taat dan patuh pada petuah guru. Buku ini menjadi bacaan menarik bukan hanya bagi yang sedang asik menikmati kesendirian, juga mereka yang sudah mantap menentukan pilihan.”
—Romzi Ahmad, Aktivis Pemuda Muslim dan Pembina AIS Nusantara.

“Menjadi santri adalah sebuah pilihan, menjadi santri harus bisa mengaji dan mempunyai akhlak yang baik. Namun, tidak hanya itu, santri bukan hanya harus mempelajari ilmu ukhrowi saja, namun juga harus mempelajari ilmu duniawi agar saat dia keluar dari pesantren tidak kaget dengan keadaan masyarakat di sekitar, serta dapat dengan baik mengamalkan ilmu-ilmu yang telah ia peroleh dari pesantren. Selain itu santri juga tidak boleh pacaran, namun banyak hal yang bisa seorang santri lakukan untuk mengekspresikan cintanya. Mau tau apa itu kalian wajib baca buku ini. Karena di dalamnya banyak motivasi-motivasi menarik dan cerdas bagaimana kita harus diri sebagai santri, namun juga bisa mengekspresikan cinta dengan baik tanpa harus pacaran.” 
Dhomirotul Firduas, Mubalighoh muda dan Content Creator Fiqih Perempuan.

Siapa tak kenal Imam Nawawi Ad-Dimasyqi, pengarang Minhaj ath-Thalibin, kitab fiqih yang masyhur dan dikaji di banyak pesantren dalam dan luar negeri. Tak disangka beliau adalah ulama yang jomblo di jalan Allah. Seumur hidupnya digunakan untuk belajar dan mengarang berbagai kitab. Santri Nikah, Jomblo Punah adalah buah karya Mbak Anifa Hambali, menjelaskan tentang bagaimana menjalankan kejombloan yang kreatif dan produktif. Keseharian seorang jomblo yang penuh dengan dorongan the power of jomblo yang membara. Cocok bagi saya pribadi dan teman-teman yang kejombloannya cuma bisa gugur karena sebab Qobiltu di akad nikah.
—Ro’fat Hamzie, Santri Tarim Hadramaut Yaman



Emoticon