Lelaki yang Tergeletak di Rumah Pelacur

Saturday, February 23, 2019

Karya : Nizar Loj
***
Entah mengapa satu bulan belakangan ini aku begitu kacau. Tak pernah pulang ke rumah, hidupku habis di makan malam. Untung saja aku bertemu Kang Rahman. Ia menuntunku agar kembali mengerjakan perintah-perintah Tuhan.
Perjumpaanku dengan Kang Rahman bermula saat aku tersungkur, mabuk di emperan tempat pelacuran. Ia menolongku dan membawaku ke sebuah kamar di sudut masjid al-Amin. Di situlah kang Rohman tinggal. Ya, dia adalah takmir di masjid itu.
"Gimana Mas Reza baik-baik saja? Diminum dulu Mas tehnya. "Kang Rohman menyodorkan segelas teh hangat ke hadapanku. "Sampean siapa? Kenapa saya bisa ada disini? Sampean kok tahu nama saya?"
"Tenangkan dulu pikiran sampean Mas. Saya Rahman, takmir masjid disini. Sekarang sampean ada di kamar saya, kamar takmir. Saya tahu nama sampean dari orang-orang yang ada di tempat pelacuran itu Mas."
"Kenapa orang alim kayak sampean bisa ada di tempat itu mas?" aku berhambur dari tempat tidur, nyeruput teh hangat yang mulai mendingin. Kang Rohman hanya tersenyum, tak menjawab pertanyaanku. Ia bergegas ke masjid untuk adzan dzuhur. Aku melongo kebingungan, sambil membayangkan semua prasangka burukku tentang Kang Rohman dan tempat pelacuran itu.
Setelah sholat dzuhur Kang Rahman membawakanku handuk, sarung, dan baju lengan panjang. "Sampean muslim kan? Mandilah kemudian sholat!” Aku mengangguk dan segera bergegas dari kamar berukuran 3x3 meter itu.
Selepas shalat dzuhur aku dan Kang Rahman duduk di serambi samping masjid. Sambil sesekali menikmati kicau burung murai Kang Rahman yang dibelinya sebulan lalu. Kebetulan kita sama-sama kicau mania, alias penggemar burung kicau.
"Sampean belum menjawab pertanyaanku tadi Kang!" sambil nyeruput kopi yang barusan di sedu kang Rohman. "Saya aktif di LSM mas. Kebetulan saya dapat tugas untuk penyuluhan rutin tiap hari selasa di tempat itu." "Jadi sampean ngasih ceramah di hadapan para pelacur itu?" aku semakin tertarik dengan topik ini. "Bukan ceramah mas, lebih tepatnya pendekatan, pemberian pemahaman, dan motivasi. Mereka melakukan pekerjaan itu bukan semata-mata karena lemahnya iman mereka. Di luar itu ada banyak faktor, dan yang paling mendasar adalah kebutuhan ekonomi. Di antara mereka ada yang di tinggal suaminya, dan ia harus menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil. Realistis meman, uang harus ia dapatkan demi kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anaknya."
Aku semakin mengagumi Kang Rahman. Padahal aku tipikal orang yang cuek, tidak mudah kagum kepada seseorang. Tapi kali ini kang Rahman mematahkan karakterku dengan sikap dan cara bicaranya yang cukup berwibawa.
"Kenapa sampean ada di tempat itu Mas?" aku kaget bukan main, mataku terbelalak. Tak menyangka Kang Rahman akan menyodorkan pertanyaan itu kepadaku. "Anu mas.." aku bingung harus mulai cerita dari mana. "Santai saja Mas, saya akan mendengarkan dan menerima semua penjelasan sampean."
Ku hela nafas dalam-dalam. Dan memastikan bahwa pasokan oksigen di otakku masih sangat cukup, agar aku bisa menceritakan yang sesungguhnya dengan cukup tenang. "Aku kacau mas, tujuanku kesitu memang ingin njajan. Sebelumnya aku dipecat dari kantor tempatku bekerja karena manipulasi data, pembuatan outlet abal-abal. Padahal aku cuma ada 5 outlet abal-abal, sedangkan temanku yang lain puluhan outlet Mas yang dimanipulasi. Dan hampir semua temanku sekantor melakukan itu. Tapi kenapa cuma aku yang dipecat, padahal aku harus menghidupi ibu dan adikku. Sedangkan teman-teman kantorku kebanyakan anak orang yang berada. Tak sedikit dari mereka yang bekerja hanya agar tidak terlihat nganggur di rumah dengan predikat sarjananya."
Aku terus saja nyerocos seperti kesetanan" Dimana Tuhan yang katanya Maha Adil itu? Kenapa Tuhan menciptakan penderitaan ini pada seseorang yang mati-matian ingin menghidupi ibu dan adiknya. Kenapa tidak pada mereka yang bekerja cuma karena gengsi. Kalau Tuhan Maha Kuasa, kenapa tidak Dia ciptakan kebahagiaan saja. Untuk apa Dia ciptakan kesengsaraan dan kesulitan? Dimana Kau Tuhan, aku ingin melihatMu saat ini juga. Atau Tuhan itu hanya cerita fiksi yang diriwayatkan dari mulut ke mulut oleh moyang kita, dan menjadi sebuah keyakinan di masa anak cucunya."
Plaakk.. Sebuah tamparan mendarat di pipi kiriku. Kang Rahman melotot, seakan setan yang barusan mendukungku kini pindah ke kubu Kang Rahman. "Sampean masih punya ibu dan adik yang bisa Sampean banggakan, sedangkan aku ditinggal mati kedua orang tuaku saat aku dan adikku masih berusia belasan tahun. Sejak saat itu aku dan adikku harus bertarung dengan kehidupan yang kejam. Sejak saat itu hingga dua tahun yang lalu aku sama sekali tidak percaya Tuhan. Tapi setelah aku sering mampir ke Masjid ini dan sesekali mengikuti pengajian, aku jadi berfikir apa yang akan terjadi setelah aku mati nanti. Apakah ia semua rasa dan nalarku juga akan mati, atau malah berkelana tanpa jasad untuk terus menjalani takdir sebagai makhluk yang hidup di alam lain, dimensi lain, spektrum lain. Dan sejak itu aku menyimpulkan bahwa di balik semua ini ada kekuatan yang Maha Dahsyat yang di sepakati oleh khakayak sebagai Tuhan. Sekarang hidup siapa yang lebih nestapa Mas, hidupku atau hidupmu?"
"Maafkan aku Kang" aku menunduk dan dalam hati mengiyakan bahwa hidup kang Rahman jauh lebih sulit dari hidupku. "Tamparanku tadi tidak serta-merta karena aku emosi pada sampean, tapi aku ingin menunjukkan bahwa untuk menunjukkan rasa sayang dan perhatian terkadang harus dilakukan dengan cara yang menyakitkan. Begitulah salah satu cara Tuhan menyayangi sampean, dengan memberi sampean cobaan. Dan dibalik itu tersimpan hikmah yang indah jika hati kita tabah dan ikhlas, serta tidak berhenti mengimaniNya."
Aku berhambur memeluk kang Rahman." Maafkan aku Kang." kami nyeruput kopi yang tak lagi mengepulkan asapnya, entah karena lelah mendengar perdebatan kami, atau karena takut pada kami yang seakan kerasukan setan. Yang pasti kopi itu sedikit menenangkan kami, dan membantu kami untuk menstabilkan nafas yang mulai terengah-engah, seperti nafas ibu-ibu yang hendak melahirkan.
Setahun berlalu, singkat cerita aku dan Kang Rahman sedang berangkat ke tanah suci untuk melangsungkan ibadah umroh. Kami diberangkatkan oleh salah satu jama'ah masjid al-Amin yang sangat dermawan. Kami berangkat dari Surabaya, transit di Jakarta, kemudian meluncur ke Jeddah. Dalam waktu 9 jam kami telah sampai di Bandara King Abdul Aziz Jeddah. Udara sangat sejuk, kebetulan bulan-bulan ini sedang musim dingin di sini. Kami bergegas menuju ruang ganti bandara untuk mengenakan pakaian ihram. Kemudian kami naik bus menuju Makkah al Mukarromah.
Saat mengitari ka’bah aku menangis haru, masih tak percaya bisa berkunjung ke tanah suci di usia yang cukup muda. "Ya Allah hamba ini hina, hamba pernah berbuat dosa besar, tidur dengan wanita malam. Hamba juga pernah mengingkari keberadaanMu. Akankah Engkau terima ibadahku ini Ya Allah?" hatiku terus bergumam, meratapi segala dosa yang kini kusesali dalam-dalam. Kupejamkan mataku sambil terus melafalkan" Labbaik Allahumma Labbaik".  Mengikuti arus jama'ah yang mengitari ka'bah.
Sekelebat kulihat wajah Mawar di kerumunan para jama'ah. Mawar adalah wanita yang dulu selalu menemaniku saat aku datang ke tempat pelacuran itu. Wajah Mawar terlihat begitu jelas, sorot matanya seakan memanggilku. Senyumnya yang masih saja hangat kuingat seperti beberapa tahun lalu.
Kupejamkan lagi mataku dalam-dalam. "Ya Allah pertanda apakah ini, apakah itu benar wujud Mawar yang sedang melakukan thawaf, atau hanya halusinasiku saja? Hamba terlanjur mencintai Mawar Ya Allah, meski perjumpaan kami sangatlah hina, tapi entah rasa itu memang ada. Tunjukkan Aku jalan lurusMu Ya Allah. Murnikanlah niat dan hati hamba, agar hamba bisa khusyu' beribadah kepada-Mu Ya Allah."
Kuberanikan diri untuk kembali membuka mata. Lamat-lamat kulihat wajah Mawar dengan baju putih lengkap dengan stetoskop menggantung di lehernya. "Alhamdulillah, sudah sadar pasiennya dok." ucap dokter muda berparas cantik itu, kulihat name tag yang terpasang dibajunya bertuliskan Mawar Kumala Sari. Aku masih bingung dengan apa yang terjadi, ku kerdipkan berulangkali mataku masih saja yang kulihat adalah dokter Mawar. Dari arah yang berlawanan muncul dokter paruh baya, dengan name tag di dadanya bertuliskan Abdur Rahman Ad-Dakhil.
Dokter Mawar menceritakan semuanya kepadaku. Bahwa seminggu yang lalu aku mengalami kecelakaan di jalan Kertanegara. Penyebabnya adalah motor yang kukendarai tiba-tiba oleng ke kanan dan tertabrak oleh mobil dokter mawar yang hendak menyalip dari belakang. Dokter Mawar langsung membawaku ke Rumah sakit karena ada pendarahan yang cukup parah di kepalaku. Sudah seminggu aku terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit.

Aku bergumam, "Terimakasih Ya Allah, hari itu memang aku berniat untuk njajan, tapi Engkau yang Maha Pengasih menunjukkan jalan yang lebih indah padaku, melalui kecelakaan itu. Dan sekarang telah kau antar aku pada dokter muda yang cantik jelita ini Ya Allah. Akan kulanjutkan takdir yang telah Engkau buka jalannya, tentang jodoh yang sudah di depan mataku. Ya Allah takdirkanlah dokter Mawar sebagai jodohku. Jika tidak, hamba mohon tukarlah nasib perjodohan hamba dengan orang yang Engkau rencanakan berjodoh dengan dokter Mawar. Amiiin. "



Emoticon