Sandal Nabi

Friday, February 22, 2019


Karya :
Ahmad Kafi

*** 
Sandal itu sekarang tertata rapi di depan mushola pesantren ketika sholat isya’ ditunaikan. Sandal jepit warna putih mangkak[1] yang hampir kecoklatan. Di bagian tumit sudah sangat tipis hampir bolong. Tali sandal yang bekali-kali putus dipasang paku supaya masih digunakan.
Sandal usang itu adalah milik Abah Musa, pengasuh pesantren Al-hikmah. Seorang kyai yang terkenal karena keampuhannya. Konon beliau bisa membaca pikiran seseorang. Seolah menyatu dengan pemiliknya, sandal jepit itu juga bertuah. Sandal keramat. Orang-orang berspekulasi bahwa yang membuat Abah Musa sakti adalah sandalnya. Tapi banyak juga yang membantah, mereka bilang bahwa sandal itu ampuh karena kesaktian pemiliknya. Namun yang jelas tidak sedikit orang yang mengaku pernah menyaksikan kesaktian sandal Abah Musa itu, salah satunya adalah Mukijo.
Suatu hari bini Mukijo minta cerai karena suaminya tidak pernah berduit. Mukijo sendiri sudah mati-matian, tapi kemiskinan masih enggan pergi dari kehidupannya. Saban hari bininya ngamuk. Yang keluar dari mulutnya hanyalah daftar nama hewan yang ditujukan pada suaminya. Lama-lama Mukijo tidak tahan sendiri, ia mengadu pada Abah Musa.
“Bawa sandal ini pulang jo, waktu istrimu tidur, tapuk[2] ­pakai sandal ini.”
Benar saja, keesokan harinya bini mukijo benar benar berubah perangainya, padahal baru kemarin ia mendamprat suaminya habis-habisan.
Cerita lain, pernah suatu ketika pesantren Abah Musa kemasukan maling. Oleh para santri maling itu diringkus hendak diadili. Abah Musa melarang dan meminta agar maling itu diserahkan kepadanya. Abah Musa meminta si maling menjulurkan tangannya. Abah mengambil sandal kramatnya lantas memukul tangan si maling dengan sandal itu. Beberapa hari kemudian si maling datang lagi kepesantren, mengadu kepada Abah Musa karena tangannya tiba-tiba lumpuh setiap kali hendak mencuri.
 Itu hanya sebagian kecil cerita dari kesaktian Abah Musa dan kekeramatan sandalnya. Berita kesaktian Abah Musa telah menjadi sarapan sehari-hari bagi warga sekitar pesantren. Lambat laun nama beliau semakin santer. Tidak hanya di lingkungan pesantren saja, tapi juga sampai ke berbagai daerah lain. Saban hari ada saja tamu yang datang ke pesantren. Ada yang membawa masalah di kepalanya, Ada yang ingin naik pangkat, panennya melimpah, punya keturunan unggulan, dan tak jarang pula yang ingin segera memperoleh jodoh. Ada juga yang hanya sekedar ingin membuktikan keampuhan sandal Abah Musa.
Sebenarnya Abah Musa tidak pernah nyantri. Tidak pernah belajar ilmu agama sama sekali. Bisa dibilang beliau nol dalam ilmu agama. Ketika menjadi mengasuh pesantren itupun juga bisa dikatakan dadakan.
Sebaliknya semasa muda ia adalah bromocorah[3], brandalan sangar, tukang madar, dan perampok kejam yang tidak pandang bulu terhadap korbannya. Tubuh tinggi, besar, kekar, otot-otot yang terbentuk sempurna, dan tidak pernah kalah dalam setiap duel  membuatnya menjadi brandalan yang ditakuti.
Suatu ketika Musa muda merampok lelaki tua pedagang kendi[4]. Pakaiannya lusuh, badannya kurus kering, matanya cekung, dan kepala yang sudah dipenuhi uban.
“Kendi tinggal satu itu mbah, laris berarti, mana duitnya.”
Ampun[5] cah bagus, jangan diminta uangnya, buat modal simbah dan kebutuhan.”
“Wes sini duitnya.” bentak Musa sambil menarik baju lelaki tua itu.
“Jangan, kalau cah bagus mau, cah bagus bisa bawa pulang kendi ini. Ini adalah harta yang jauh lebih besar dari pada uang yang kamu minta. Percayalah.”
“Jangan membodohiku pak tua, berikan uang itu atu kau akan mencium bau tanah kuburanmu.” Mendengar bentakan Musa bukannya ketakutan malah pak tua itu tersenyum tenang.
“Orang muda memang tidak sabaran.” Kata lelaki tua itu sambil terkekeh.
“Cah bagus, kalau kamu tidak percaya buktikan saja nanti malam. Sebelum kau tidur letakkan kendi ini di dekatmu dan kau akan segera tahu maksudku.” Mendengar ucapan lelaki itu, musa mulai penasaran.
“Apa jaminannya kalau kau tidak berbohong.”
“Kau ragu rupanya.”
“Baiklah ku bawa kendi ini sekaligus uangmu. Jika mulutmu benar akan kukembalikan uang ini padamu besok.”
“Tamak koe[6], mana bisa aku percaya.”
“Aku tidak pernah mengingkari ucapanku.”
“Haha ya terserahlah lagipula percuma saja aku melawanmu.”
Malam harinya sebelum Musa tidur kendi tersebut benar-benar diletakkan di dekatnya. Anehnya beberapa saat kemudian badan Musa menggigil hebat, tiba-tiba panas, sangat panas, menggigil lagi, panas lagi. Kejadian tersebut berlangsung berulang-ulang sampai akhirnya Musa pingsan.
Ketika tak sadarkan diri musa merasa bertemu orang tua siang tadi. Berbeda dengan ketika siang, orang tua ini kulitnya sangat bersih, wajahnya bersinar, pakaiannya rapi tidak lusuh. Ia mengenakan baju lurik dilapisi jubah hijau, juga surban yang diikatkan di kepalanya. Musa terjingkat. Perasaan takut tiba tiba memenuhi dadanya hingga membuat napasnya sesak. Tubuhnya terasa kaku.
“Apes!! Rupanya orang tua itu medi[7].” Pikir musa.
Dalam sekejap mata dibawanya Musa terbang menuju langit kemudian menembus perut bumi. Di dalam bumi Musa mendapati banyak orang menggeliat, meraung, jungkir balik, timbul tenggelam dalam lautan api. Musa bergidik ngeri.
“Seperti itulah kamu kelak” kata orang tua itu.
Musa membelalak. terhenyak. Lidahnya kelu.
“Ganjaran yang pantas untuk orang-orang yang hanya berbuat kerusakan. Apapun yang kau lakukan hanyalah mengantarkanmu ke sini” sambung pak tua.
Musa menggigil, keringat dingin membasahi tubuhnya, bulu kuduknya meremang, nafasnya memburu. Tiba-tiba tangan pak tua mencenkram leher Musa dan melemparkannya ke dalam api. Beberapa detik kemudian diangkatlah tubuh Musa. Kulit-kulitnya hangus, daging melepuh meleleh mengalirkan darah, tulang-tulangnya bertonjolan, bola mata keluar sari tempatnya. Sejurus kemudian pak tua mengambil sandalnya, ditepukkanlah sendal itu ke jidat Musa, seketika kulit hangus Musa rontok, daging dan tulang-tulangnya luruh, tumbuh tulang dan daging yang baru, beberapa saat kemudian tubuh Musa kembali utuh.
Musa menyadari orang tua yang bersamanya bukanlah orang sembarangan. Menangislah ia, meraung sejadi-jadinya. Belum pernah ia merasakan kesakitan sehebat itu.
“Tidak adakah yang bisa mencegahku dari siksaan semacam itu mbah.”
“Tidak ada, kecuali dirimu sendiri.”
“Benarkah.”
“Asal kau mau mengikutiku.”
“Apapun mbah.”
“Tidak peduli berapa puluh tahun lamanya?”
“Saya siap mbah.”
Dalam sekejap mata kedua lelaki tersebut sudah berada di di sebuah rumah kayu tua ditengah hutan. Di sana Musa di gembleng dengan berbagai ilmu keagamaan dan kebatinan. Setiap kali Musa kesulitan menerima pengajaran, pak tua langsung menampar Musa dengan sandal. Ajaibnya setelah ditampar Musa menjadi benar-benar paham.
Benar juga kata pak tua, Musa benar-benar digembleng selama puluhan tahun. Tubuh Musa yang awalnya kekar kini menyusut, rambutnya memutih, kulit-kulitnya keriput, lambat laun tubuhnya lebih cepat lelah, napasnya tersengal-sengal. Musa sudah menua, sudah sakit-sakitan.
Namun Musa mendapati keganjilan pada diri pak tua. Ia tidak semakin menua, justru sebaliknya, rambut putih ketika baru bertemu Musa berubah hitam legam, wajahnya semakin kencang dan bersinar, tubuhnya tegap dan gagah. Pak tua sekarang menjadi pemuda perkasa. Karena penasaran Musa akhirnya menanyai orang yang selama ini menjadi gurunya.
“Setiap orang memiliki keistimewaan masing-masing dengan jalan masing-masing pula, termasuk koe”
“Saya? Memiliki keistimewaan?”
“Orang lain yang menilai. Cah bagus, sepertinya sudah cukup rasanya kau bersamaku. Sekarang sudah saatnya kau kembali pada kehidupanmu. Amalkan ilmumu di sana.”
“Maksud panjenengan pripun?”
Belum sempat ia memperoleh jawaban mukanya telah mendapatkan tamparan sandal.
PLAAKK!!!!
Musa terperanjat dari tempat tidurnya. Menyeka keringat yang membanjiri mukanya. Perih tamparan di pipinya samar-samar masih terasa. Ia masih mengingat benar apa saja yang ia alami. Ia beranjak ingin mengambil minum. Namun betapa terkejutnya Musa ketika mendapati sandal yang sama persis dengan sandal yang berulangkali menamparnya. Sedang kendi yang berada di dekatnya tiba-tiba raib. Sejurus kemudian merasa tiba-tiba ada semacam ruh yang merasuki dirinya. Membuatnya merasa memiliki sukma baru.
***
Pesantren Abah Musa kini kian hari makin ramai. Para tamu yang datang sekarang bahkan berasal dari luar negeri. Abah Musa semakin sibuk. Dari semenjak fajar sampai tengah malam para tamu seperti tak berkurang jumlahnya.
Suatu malam ba’da isyak ketika Abah Musa melayani tamu-tamunya, beliau kedatangan seorang pemuda tampan berpakaian lurik serta mengenakan jubah hijau. Pemuda itu berdiri tepat di pintu ndalem tempat Abah Musa melayani tamu-tamunya. Abah Musa tidak menyadari kalau ada pemuda yang menatapnya dari pintu.
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam” jawab Abah Musa. Seketika beliau terperanjat begitu mengenali siapa orang yang ada di depan pintu itu. Tergopoh-gopoh Abah Musa berdiri menghampiri dan langsung menciumi tangan pemuda tersebut. Sontak para tamu yang menyaksikan pemandangan aneh itu terheran-heran. Bagaimana mungkin seorang kyai kesohor, sakti, tinggi ilmunya mencium tangan seorang pemuda yang lebih pantas dibilang cucunya.
Piye[8] kabarmu cah bagus?” tanya pemuda tersebut. Para tamu semakin terheran-heran.
“Alhamdulillah ? sae[9] mbah” jawab Abah Musa penuh hikmat.
Pemuda tersebut menyapukan pandangan kepada tamu-tamu yang ada kemudian mendekatkan wajahnya ketelinga Abah Musa.
“Sandalnya mau saya ambil lagi. Syirik kiu alus[10]. Orang-orang awam jarang menyadari datangnya tanda-tanda syirik dan tiba-tiba saja mereka sudah berada dalam kesyirikan. Paham maksudku le?”
“Astaghfirullah, inggih mbah inggih.”
Akhirnya sandal kusam yang selama ini bersama Abah Musa diberikan kepada pemuda tersebut. Setelah itu sang pemuda pergi dengan meninggalkan senyuman aneh kepada tamu-tamu. Para tamu kembali dibuat heran dan cemas. Sandal yang membuat mereka mau bersusah payah datang ke pesantren kini tidak ada. Sebagian dari mereka khawatir kalau Abah Musa tidak sakti lagi.
Salah seorang jamaah yang benar-benar khawatir kalau hajatnya tidak akan tertunaikan memberanikan diri bertanya.
“Kenapa sandalnya diberikan begitu saja bah?”
“Lha wong cuma sandal kok” jawab Abah Musa tenang.
Para tamu melongo.
“Orang itulah yang sebenarnya punya sandal, guruku.” sambung Abah Musa.
Para tamu semakin tidak habis pikir dengan perkataan Abah Musa. Sebagian dari mereka benar-benar menyangka bahwa akal waras Abah Musa sudah hilang bersamaan dengan perginya sandal tersebut. Melihat reaksi para tamunya yang berubah Abah Musa terkekeh.
“Kalian jangan salah paham, aku masih waras. Pemuda yang kalian lihat tadi memang benar-benar guruku. Namanya Mbah Khidhir.”

Kasongan, 19 Februari 2019




[1] Putih kekuning-kuningan
[2] Menampar mulut
[3] penjahat yang sehari-harinya bergaul dengan masyarakat, tetapi pada suatu saat tidak segan-segan melakukan kejahatan.
[4] Wadah air minum dari tanah liat
[5] jangan
[6] kamu
[7] hantu
[8] bagaimana
[9] Baik
[10] Itu halus



Emoticon