Perjuangan Cinta Rahwana, Raja Agung Penguasa Tiga Dunia

Friday, June 28, 2019

Judul: Perjuangan Cinta Rahwana, Raja Agung Penguasa Tiga Dunia
Penulis: Andri Kurniawan
Penerbit: Belibis Pustaka
Cetakan: Juni 2019
Tebal: x + 163 halaman
ISBN: 978-623-907933-8
Harga: 62,500



Kepada para pembaca buku, setidaknya Anda akan mendapatkan dua kemungkinan saat membaca buku (apapun). Pertama Anda akan puas karena begitulah hasil bacaan tersebut sesuai dengan himpunan latar belakang atau horison budaya pembaca. Kedua Anda merasa aneh, janggal, bingung, bertanya-tanya, atau bisa jadi memaki-maki sebuah karya jika membuat suatu sudut pandang baru atau berbeda dari atribut pemahaman pembaca. Lalu bagaimana Anda akan bersikap dengan buku ini, buku yang sedang Anda baca, Perjuangan Cinta Rahwana, Raja Agung Penguasa Tiga Dunia.
            Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita melihat tiga buku tentang Rahwana, Rahuvana Tattwa karya Agus Sunyoto (2006), Rahwana Putih karya Sri Teddy Rusdy (2013), dan Rahvayana karya Sujiwo Tejo (2014). Ketiga buku tersebut menangkap dan mendandani tokoh Rahwana dan dipanggungkan dalam sebuah buku dengan perubahan penokohan yang keluar dari pakem umum, yakni Rahwana yang pada cerita umumnya antagonis diubah menjadi protagonis.
            Sudut pandang penokohan ketiga buku tersebut agak mirip dengan Ramavataram atau biasa dikenal dengan Kamba Ramayanam, yang menggambarkan Ravana sebagai pahlawan bagi rakyat Tamil. Ravana diceritakan sebagai raja yang sangat dicintai rakyatnya. Ravana yang bermuka sepuluh (Dasamuka) merupakan penggambaran dari penguasaan sepuluh cabang ilmu pengetahuan: seni, pendidikan, ekonomi, kedokteran, astronomi, planologi, politik, hukum, dll. Pendapat lain mengatakan bahwa Ravana menguasai pengetahuan atas tiga Weda dan enam Upanishad, sehingga pengetahuannya setara dengan sepuluh orang cendekiawan/resi. Ravana yang hidup dalam lingkungan matriarki juga dikenal sangat menghormati wanita. Sita yang diculiknya diperlakukan secara terhormat, tidak ada paksaan maupun pelecehan meskipun Sita cukup lama berada dalam cengkeramannya. Justru kemudian timbul pertanyaan atas sikap Rama ketika telah berhasil mendapatkan istrinya kembali. Demi menguji kesucian Sita, Rama malah memintanya melakukan Obong, sebuah upacara uji kesucian dengan membakar diri dalam api.
            Konon dalam cerita pada umumnya, Rahwana pernah mendatangi Dewa Siwa di gunung Kailash. Namun dalam kisahnya Rahwana membuat marah Dewa Siwa karena telah mempermainkan gunung-gunung, sehingga menimbulkan hukuman berat baginya: tubuhnya ditindih gunung Kailash. Singkat cerita Rahwana bertobat, ritual pertobatannya dengan berupaya menciptakan sastra, nyanyian dan pujian tulus yang dipersembahkan kepada Dewa Siwa. Rahwana mendendangkannya selama bertahun-tahun, sehingga Dewa Siwa pun luluh. Dewa Siwa terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, kemudian membebaskan Rahwana. Selain memberi kebebasan Dewa Siwa pun memberinya kekuatan tambahan, dan memberikan hadiah berupa Chandrahasa (pedang-bulan), pedang yang tak terkira kuatnya. Setelah peristiwa itu Rahwana menjadi pemuja Dewa Siwa seumur hidup. Rahwana terkenal dengan tarian pemujaannya kepada Dewa Siwa yang bernama "Shiva Tandava Stotra".
            Dalam karya sastra, banyak kekayaan yang dimiliki salah satunya metafora, menurut saya metafora adalah peristiwa yang terpisah dari bahasa. Jika bahasa lebih kepada kesepakatan-kesepakatan, maka metafora lebih mengambil pada aspek pengalaman yang diunduh di waktu karya tersebut dicipta, berlangsung, atau diceritakan. Pedang-Bulan, secara sepihak saya lebih yakin bahwa itu adalah metafora yang dipakai. Bagi saya Pedang-Bulan merujuk pada dua hal; kekuatan dan cinta. Dua hal yang berjauhan disandingkan, kekuatan yang perkasa dan cinta yang melukiskan ketulusan. Menurut saya baik kiranya untuk memperhalus sebuah pemberian dari Dewa Siwa kepada Rahwana tersebut, dari materi-kebendaan berupa senjata untuk berkelahi "gedebag-gedebug" kepada sebuah pengetahuan-wisdom tentang kekuatan dan cinta. Jadi bagi saya Dewa Siwa telah memberikan dua hal sekaligus yang tidak semua makhluk mendapatkan. Bagi seorang raja kekuatan atau kekokohan sebagai pemimpin dan sifat kasih sayang kepada sesama  adalah sebuah dua hal yang harus dimiliki, sehingga ia akan dicintai rakyatnya. Pun dengan manusia pada umumnya, kekuatan dan cintalah yang membuat hidup menjadi berguna. Tanpa keduanya, peradaban manusia pasti segera punah binasa.
            Andri Kurniawan dalam hal ini sebagai penulis sedang melakukan eksperimen yang atraktif. Terbukti dari upaya penggabungan dua hal yang berbeda: esai dan puisi. Meskipun pada dasarnya keduanya merupakan serpihan anatomi budaya kehidupan penulis. Karena tak mungkin suatu karya lahir dari kehampaan "ada" atau kekosongan "bentuk". Sebagai penulis ia telah bergerak menuju apa yang akan ia bentuk. Kemudian muncul sebuah pertanyaan mendasar, apa alasan yang melatarbelakangi karya ini  dijadikan sebagai salah satu anak intelektualnya, rasion d'etre. Namun pertanyaan tersebut akan sulit terjawab, karena penulis bisa saja mengelak dari anggapan dan tafsir luar dari pembaca, kecuali jika ia menghendaki menjadi seorang penulis yang pasrah. Satu hal yang memungkinkan untuk kita dekati adalah dengan menelusuri apa yang ia tulis, setidaknya tulisan lebih jujur dan terbuka untuk kita selami.
Kita akan menelusuri beberapa tulisannya dalam buku ini:
            Tulisan-tulisan dalam buku ini tidak sedang menghadirkan secara utuh kisah Rahwana, namun lebih kepada panorama liar yang ingin dihimpun oleh penulis, sebuah "Panorama Rahwanik". Dalam tulisan pertamanya "Perjuangan Cinta Rahwana, Raja Agung Tiga Dunia" penulis menambatkan diri dalam ruang refleksinya tentang cinta, dengan membidik Rahwana sebagai lakon yang ditonjolkan dalam ide tulisannya. Pada tulisan "Nestapa Cinta Romeo Juliet, Qays Layla dan Cleopatra", menegaskan bahwa penulis memang seorang santri yang mencoba menutupi dirinya dengan pola eklektik, sehingga tetaplah bahan baku "keislaman"lah yang ia pilih. Kemudian nampak sekali unsur kecintaan penulis terhadap sosok perempuan dalam tulisannya yang berjudul "Gusti Ayu Made Rai dan Haru Biru Sebuah Penyelasalan". Dalam tulisan "Mencintai dengan Paksaan" terlihat ada teriakan yang sengaja dipelankan oleh penulisnya. "Mendebat, Mempertanyakan Kembali Indonesia. Dijajah 350 Tahun?" adalah gagasan besar tentang sejarah, nasionalisme dan paham kebangsaan dalam bahasan dialog sederhana yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan besar. Nampaknya tulisan "Tipologi Mahasiswa, Mahasiswa Kusir Kuda?", "Hubungan Rambut Gondrong dan Uang SPP", "Mahasiswa Gondrong, Mode, Selera atau Akhlak...?", "Dewasa dan Alasan Mengapa Sekolah itu Penting", merekam masa muda penulis, khususnya saat mahasiswa, dengan kritik dan refleksi kepemudaan-pendidikan yang nyatanya masih relevan sampai hari ini. Nuansa dramatik-profetik terdapat pada tulisan "Ketika Si Pengembala Kambing Ingin Melayani Tuhan" dan "Gelandangan Substansial". Dan semakin ke sana, semakin jauh saya membaca tulisan-tulisan dalam buku ini saya semakin melihat muara refleksi spiritual yang mencoba diramu dengan berbagai bahan baku.
            Dalam salah satu bait puisinya, saya tertegun. Apakah ini puisi yang dibaca oleh Rahwana kepada Siwa, ataukah sebuah persembahan dari penulis untuk sesiapa:
Demi cita dan cinta
Aku mau melakukan hal-hal gila
Menghimpun, memendam, dan menikmati rasa yang sangat perih jika ku ungkapkan
Apakah kau merasakan hal yang sama
Kumimpikan dirimu, walau sesaat, itupun aku ragu
Taukah kau,
Kerasnya cadas bebatuan tak mampu menghancurkan bibit cinta yang tumbuh di hati
lagi-lagi aku ragu
Apakah kau merasakan hal yang sama
Namun aku tak peduli
Ku ambil sajadah cinta, kuusap, ke elus di hati
Bukan apa-apa, biar hatiku tenang saja

            Apakah nama Rahwana bisa disematkan kepada penulis? Mungkin iya, mungkin tidak. Bisa saja penulis sangat mendalami sosok Rahwana sehingga memunculkan dorongan untuk memfigurkan dan menuliskannya. Atau malahan penulis awalnya benci sekali dengan sosok Rahwana sehingga dari kebencian itu berbalik arah menjadi kompas gembala wacana yang ia genggam dalam perjalanan.
            Andri Kurniawan telah menuturkan bildung-nya (self-cultivation) di depan Anda para pembaca, bildung tersebut sudah digelar dalam rentetan panjang dalam buku ini. Dengan membaca satu persatu tulisan dalam buku ini, terlebih jika mau menghayati puisi-puisinya maka kita akan menyatakan bahwa siapakah sebenarnya seorang yang bernama Andri Kurniawan. Dan buku ini bagi saya adalah Pedang-Bulannya Andri Kurniawan.

Malang, 16 Juni 2019

Fathul H. Panatapraja
Redaktur Petjud.id, Tinggal di Malang



Emoticon